Candi Plaosan: Saksi Cinta Beda Agama yang Melampaui Zaman
Di Klaten, ada candi yang bukan cuma indah dipandang, tapi juga punya kisah cinta yang bikin merinding. Namanya Candi Plaosan, terletak di Desa Bugisan, Prambanan. Orang sering menyebutnya "Candi Kembar" karena kompleksnya terbagi dua: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul.
Kisah Cinta di Balik Batu
Candi ini dibangun sekitar abad ke-9, hasil kisah cinta Rakai Pikatan (raja beragama Hindu) dan istrinya, Pramodhawardhani (putri kerajaan beragama Buddha). Pernikahan beda agama mereka sempat menimbulkan gejolak politik. Tapi cinta mereka justru melahirkan sesuatu yang luar biasa.
Rakai Pikatan membangun Plaosan sebagai hadiah cinta untuk istrinya, sekaligus membebaskannya tetap memeluk agama Buddha. Candi ini jadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukan halangan untuk saling setia dan menghormati.
Arsitektur yang Penuh Makna
Plaosan Lor, bagian yang lebih besar dan terawat, punya dua candi utama dikelilingi 116 stupa dan 50 candi kecil. Yang menarik, relief di candi induk utara kebanyakan menggambarkan sosok perempuan, sementara candi induk selatan didominasi sosok laki-laki — simbol pasangan yang setara dan harmonis.
Meski bercorak Buddha, ada sentuhan Hindu yang menyatu di sana. Perpaduan ini menciptakan suasana toleransi yang terasa nyata, bahkan setelah lebih dari seribu tahun.
Kenapa Wajib Dikunjungi?
Spot foto pre-wedding favorit — katanya, pasangan yang berkunjung ke sini bakal punya hubungan yang awet
Suasana tenang — dikelilingi sawah hijau yang bikin betah
Sunset terbaik — cahaya senja di antara candi-candi batu, dramatis banget
Tips Berkunjung
Plaosan dekat banget dengan Prambanan dan Candi Sewu, jadi bisa sekalian dalam satu trip. Datang pagi (sekitar jam 8) atau sore (sekitar jam 4) biar gak kepanasan dan dapat golden hour terbaik buat foto.
Candi Plaosan bukan cuma tumpukan batu tua — ia adalah monumen cinta, kesetiaan, dan toleransi yang masih hidup sampai sekarang.