Candi Plaosan Lor vs Kidul
Candi Kembar yang Bercerita Tentang Cinta dan Toleransi
Tak jauh dari kemegahan Prambanan, Klaten menyimpan kompleks candi yang tak kalah memukau namun dengan kisah yang jauh lebih romantis dan filosofis yaitu Candi Plaosan. Kompleks ini terbagi menjadi dua bagian utama yang berdampingan Candi Plaosan Lor (Utara) dan Candi Plaosan Kidul (Selatan).
Dikenal sebagai "candi kembar", Plaosan bukan sekadar keindahan arsitektur, ia adalah monumen hidup yang menceritakan tentang toleransi beragama di era Mataram Kuno. Dibangun pada abad ke-9, arsitektur kedua candi ini mencerminkan pernikahan politis dan spiritual antara dua kepercayaan besar. Mari kita bedah perbandingan arsitektur kedua candi ini dan makna di baliknya!
Latar Belakang Sejarah: Pernikahan Dua Keyakinan
Untuk memahami arsitekturnya, kita perlu memahami kisah di baliknya. Candi Plaosan dipercaya dibangun atas inisiatif Raja Rakai Pikatan (beragama Hindu Siwa) dan permaisurinya, Pramodhawardhani (beragama Buddha Mahayana) dari Dinasti Syailendra.
Pembangunan Plaosan menjadi simbol penghormatan Rakai Pikatan kepada istrinya. Candi ini menggabungkan unsur arsitektur Hindu dan Buddha dalam satu kompleks, menunjukkan betapa tingginya toleransi dan penghargaan antarsesama pada masa tersebut.
Perbandingan Arsitektur: Dominasi dan Detail Candi Utama

1. Candi Plaosan Lor (Utara): Dominasi Buddha yang Megah
Plaosan Lor memiliki dua bangunan candi induk utama (kembar) dan merupakan bagian yang lebih besar dan megah. Candi induk di Lor cenderung memiliki ciri arsitektur Buddha yang kuat. Di dalamnya, terdapat relung yang dahulu diperkirakan terdapat arca Buddha setinggi lebih dari 3 meter. Plaosan Lor sering dianggap sebagai pusat aktivitas Buddhis di kompleks tersebut, sesuai dengan agama Pramodhawardhani.
2. Candi Plaosan Kidul (Selatan): Arsitektur yang Lebih Ringkas
Plaosan Kidul umumnya memiliki struktur yang lebih kecil dengan satu candi utama dan lebih banyak bangunan pendamping. Arsitektur Kidul menunjukkan perpaduan yang lebih kental antara Hindu-Buddha. Meskipun demikian, secara keseluruhan, kompleks Plaosan tetap memperlihatkan keselarasan, dengan stupa dan lingga-yoni (simbol Hindu) yang ditemukan berdampingan di beberapa area.
Detil dan Makna Toleransi pada Relief
Di Plaosan Lor, Anda akan menemukan banyak relief tokoh wanita (diduga Bodhisattva) dan laki-laki yang berpasangan. Relief ini menampilkan pahatan yang sangat halus dan detail, melambangkan kemewahan dan keharmonisan Dinasti Syailendra.
Uniknya, di sekitar candi induk terdapat ratusan candi perwara. Beberapa di antaranya berbentuk Candi Sela (dari batu) dan sebagian lagi berbentuk Candi Limas (dahulu dari kayu). Ini menunjukkan variasi fungsional dan ritual yang diselenggarakan di kompleks tersebut.
Plaosan secara keseluruhan menunjukkan sinkretisme (percampuran harmonis) arsitektur Hindu dan Buddha, menjadikannya bukti fisik bahwa pada abad ke-9, kedua agama tersebut dapat hidup berdampingan secara damai dan bahkan saling mendukung.
Candi Plaosan Lor dan Kidul adalah lebih dari sekadar tumpukan batu kuno. Mereka adalah sebuah surat cinta yang terukir, menceritakan keharmonisan antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani. Secara arsitektur, Plaosan adalah perwujudan nyata dari toleransi beragama pada masa lalu.
Mengunjungi Plaosan adalah perjalanan kembali ke masa keemasan Mataram Kuno, di mana perbedaan agama justru menjadi alasan untuk membangun sesuatu yang indah dan monumental.
Alamat
Jl. Candi Plaosan, Dukuh Plaosan, Bugisan, Kec. Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57454
Lihat di Peta
Jam Operasional
| Hari | Jam Buka | Jam Tutup |
| senin | 07:30 | 16:00 |
| selasa | 07:30 | 16:00 |
| rabu | 07:30 | 16:00 |
| kamis | 07:30 | 16:00 |
| jumat | 07:30 | 16:00 |
| sabtu | 07:30 | 16:00 |
| minggu | 07:30 | 16:00 |
Retribusi
| Jenis | Harga |
| Tiket Masuk | 10000.00 |
Fasilitas
| Jenis | Jumlah |