Tradisi Sebaran Apem Yaa Qowiyyu Jatinom

Tradisi Sebaran Apem Yaa Qowiyyu Jatinom

Tradisi Sebaran Apem Yaa Qowiyyu Jatinom

Jutaan Apem, Satu Makna Kekuatan

Jika anda mengunjungi Klaten menjelang pertengahan Bulan Sapar dalam kalender Jawa, anda akan menyaksikan sebuah tradisi agung yang menjadi ikon budaya daerah yaitu Sebaran Apem Yaa Qowiyyu di Kecamatan Jatinom.

Tradisi ini bukan sekadar festiva, namun ini adalah perpaduan antara spiritualitas, sejarah, dan keramaian rakyat yang unik. Setiap tahun, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu, kue apem dibagikan kepada masyarakat yang percaya bahwa apem tersebut membawa berkah dan kekuatan. Mari kita selami lebih dalam asal-usul, filosofi, dan kemeriahan dari ritual budaya paling fenomenal di Klaten ini!

Asal-Usul Sejarah: Jejak Ki Ageng Gribig

Tradisi Yaa Qowiyyu berakar kuat pada sejarah penyebaran Islam di Jawa, khususnya sosok Ki Ageng Gribig.

1. Kisah Apem dari Tanah Suci: Ki Ageng Gribig adalah ulama penyebar Islam sekaligus keturunan Raja Brawijaya V yang hidup pada era Kerajaan Mataram Islam. Konon, usai menunaikan ibadah haji, beliau membawa oleh-oleh berupa tiga buah kue apem dari tanah suci. Saat dibagikan kepada masyarakat yang datang, kue tersebut tidak mencukupi.

2. Filosofi "Yaa Qowiyyu": Karena keterbatasan itu, Ki Ageng Gribig berdoa memohon pertolongan Allah seraya mengucapkan zikir "Yaa Qowiyyu" (يا قوي) yang berarti "Wahai Tuhan Yang Maha Kuat". Setelah itu, sisa adonan apem dibuat menjadi banyak dan dibagikan secara merata. Sejak saat itu, tradisi sebaran apem dengan zikir tersebut dilestarikan.

Filosofi Apem: Simbolisasi Permintaan Kekuatan

Kue apem dalam tradisi Jatinom memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata "apem" dipercaya berasal dari kata serapan Arab "affuan" atau "afuwun" yang berarti ampunan. Kue ini melambangkan permohonan ampunan kepada Tuhan.

Dengan mengucapkan "Yaa Qowiyyu" saat sebaran, masyarakat berharap mendapatkan kekuatan (fisik, mental, dan spiritual) dari Tuhan untuk menjalani kehidupan dan menjauhi mara bahaya di sepanjang tahun.

apem di sini dibuat secara khusus oleh warga lokal, umumnya berukuran kecil, berwarna putih, dan memiliki tekstur yang khas, diolah dari beras dan santan.

Puncak Tradisi: Perebutan Apem di Kompleks Masjid

Puncak perayaan Sebaran Apem Yaa Qowiyyu adalah momen yang paling ditunggu dan paling meriah, menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Ritual ini dipusatkan di Kompleks Makam Ki Ageng Gribig dan Masjid Agung Jatinom. Apem yang sudah disiapkan akan diarak dan diletakkan di panggung yang tinggi (Gunungan Apem).

Pada momen puncak, puluhan ribu bahkan hingga 500 ribu kue apem disebarkan dan dilempar dari panggung atau menara. Terjadi perebutan apem yang sangat meriah dan penuh semangat. Masyarakat percaya, apem yang berhasil didapatkan akan membawa berkah, keberuntungan, dan kekuatan.

Selain sebaran apem, tradisi ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan budaya seperti pasar malam, pertunjukan seni tradisional, dan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig.

Tradisi Sebaran Apem Yaa Qowiyyu adalah salah satu warisan budaya terbesar di Klaten. Ia mengajarkan tentang pentingnya memohon ampunan (affuan) dan meminta kekuatan (yaa qowiyyu) dalam menjalani hidup. Keramaiannya bukan sekadar festival musiman, tetapi perayaan kolektif atas harapan dan spiritualitas yang telah diwariskan turun-temurun.

Alamat

Jalan Masjid Besar Jatinom, Suran, Jatinom, Kec. Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57481
Lihat di Peta

Jam Operasional

Hari Jam Buka Jam Tutup

Retribusi

Jenis Harga

Fasilitas

Jenis Jumlah

Location